Coba aja dulu!

“Yang melihat, hanyalah mataku sendiri
 Yang mendengar, hanya kupingku
 Yang merasa, hanyalah kedua tangan ini
 Yang mengerti, hanya hatiku”

Sepenggal lagu baru berjudul “Wajah Cerita” dari Ben Sihombing yang dua hari ini aku dengerin terus di kamar kos. Aku merasa musiknya nyaman sekali di telinga. Sederhana. Dan mungkin yang paling bikin merem syahdu pas dengerin adalah liriknya syarat makna buat aku. So related with what I am feeling recently.

Akhir-akhir ini aku memang lagi merasa “nggak penuh”. Kayak selalu ada yang nggak beres. Merasa ada yang kurang. Perasaan itu bikin aku sulit menikmati keseharianku. Aku sibuk sekali memandangi laptop saat bekerja tapi masih banyak pekerjaan yang masih tertunda. Overwhelmed mungkin kata yang tepat menggambarkan apa yang aku rasain sekarang. Seperti dikejar-kejar banyak hal. Help!

Ketika merasa nggak nyaman kayak gitu, kita cenderung untuk meminta orang lain mengerti keadaan kita nggak sih? Dan rasanya sedih banget saat kita tau bahwa orang lain nggak bisa ngertiin kita. Kita merasa kalau mereka merusak hari kita. Kita merasa bahwa mereka nggak bisa sedikit aja mengerti. But I tell you this, they don’t. The can never know your exact feeling. Ini sih aku ngomong saat udah selesai emosi berhari-hari. Tapi guys! Emang susah. Butuh keberanian buat menyadari bahwa kita lagi nggak baik-baik aja. Aku nggak baik-baik aja. Aku butuh bantuan.

Dan siapa yang bisa benerin perasaan nggak nyaman yang segambreng itu? Diri sendiri. Siapa lagi. Orang yang paling bisa mendengarkan dan cinta sama kita ya diri kita sendiri. Lagi-lagi ini PR seumur hidup sih. Dan ya, aku lagi nggak sepenuhnya mendengarkan dan mengerti diri sendiri akhir-akhir ini. Aku minta orang lain mengerti entah dari omonganku atau bahkan dari perasaan yang aku pendem.

Itu yang bikin lagu diatas kena banget di aku. Dari situ aku mencoba buat memeluk diri sendiri. Ngajak ngomong dan disaat yang sama juga mendengarkan. Aku maunya apa? Aku nyamannya gimana? Sekarang pengen ngapain? dan pertanyaan paling penting adalah Aku sekarang merasa apa? Ketika aku coba ngomong ini ke diri sendiri, aku tau bahwa aku udah secara nggak sengaja memaksa  orang-orang buat ngertiin aku dan kecewa ketika mereka nggak paham. Padahal yang melihat hanyalah mataku sendiri, yang mendengar hanya kupingku.

PR besarku adalah mengungkapkan perasaanku dan bukan memaksa orang lain melihat apa yang aku lihat. Nggak mudah, Kik! Tapi coba dulu aja.

Selamat menjelang senin 🙂

 

Advertisements

Millennial Marzukiana: Ajakan bersuara untuk pemuda.

Millennial Marzukiana: Ajakan bersuara untuk pemuda.

 

Setiap mendengar kata millennial, orang pasti punya pendapatnya masing-masing. Menurutku yang lekat dengan kata millennial salah satunya adalah kebebasan. Kebebasan untuk mengekspresikan dirinya seperti mengunggah foto, video, ide, pendapat dan gagasannya di sosial media. Lekatnya millennial dengan teknologi, memungkinkannya untuk mengakses segala informasi dengan cepat dan mudah. Keinginan para millennial untuk “berbeda” juga kental. Seperti gaya hidup yang berbeda dengan budaya dalam lingkungannya serta idealisme tertentu terhadap cara memandang hidup. Mending nabung buat travelling daripada buat bayar KPR, ya nggak gaes?

Intriguing. Kata yang muncul ketika membaca judul konser awal tahun ini. Sejujurnya, rasa penasaranku lebih kepada apa yang ingin disampaikan dibandingkan dengan apa yang ingin disuguhkan musik Ananda Sukarlan kali ini. Dengan latar belakang tersebut, aku mencoba menebak-nebak, melalui apakah ke-millinneal-an konser ini akan tampak. Kira-kira, konser ini mau bicara tentang apa ya?

Suara Master of Ceremony memecah ruangan konser kala itu. Aku duduk di barisan paling depan, lantai dua. Mencoba mendengarkan dengan seksama selagi yang lainnya asyik keluar masuk, membetulkan duduk, bersalaman, atau sekedar bisik-bisik berbagi pengalaman di perjalanan menuju konser yang hujan. Hal menarik dari yang disampaikan oleh mungkin perempuan umur 25an dengan suara renyah walaupun beberapa kali grogi menyebutkan teks yang ia pegang adalah informasi mengenai kolaborasi antara panitia dan Fonza (Fotografi Gonzaga) untuk mendokumentasikan konser kali ini. “Wah ngajak anak Gonzaga buat terlibat. Seru!” itu yang aku pikirkan.

Ngajak anak muda buat berdaya di konser besar itu menunjukkan banyak hal. Mereka mendapatkan kesempatan buat unjuk gigi. Bisa juga sebagai wujud apresiasi dari apa yang mereka kerjakan selama ini. It’s like “I heard you”. “I can count on you”. Selain itu, kolaborasi ini bisa sebagai strategi marketing yang epic. Millennial mana yang tidak dekat dengan sosial media. Foto-foto yang mereka dapatkan tentu saja akan disebarluaskan di jejaring sosial yang mereka punya atau di website club fotografi tersebut. Nambah-nambahin portfolio dong! Dengan begitu, konser klasik yang dianggap kaku bisa menembus kalangan millennial di luar sana melalui karya-karya mereka. Asyik kan kalau millennial pun juga menganggap konser klasik sebagai sesuatu yang menarik buat dinikmati selain DWP (Djakarta Warehouse Project).

Abis googling tiket DWP tahun lalu, mahal woe! Yang termurah aja masih lebih mahal dari tiket silver balcony nya Millennial Marzukiana, tapi kalau diminta memilih, kira-kira millennial diluar sana ambil yang mana? Aku yakin pasti banyak yang milih DWP. Kenapa? lebih kekinian? kayaknya nggak sepenuhnya itu tetapi karena belum tau banyak aja dan konser klasik kurang dekat dengan mereka. Belum tau kalau konser klasik dengan lagu-lagu karya Ismail Marzuki ini bisa dinikmati dengan menarik dan nggak cuma di upacara bendera aja. Tak kenal maka tak sayang. Gitu nggak sih? Untuk itulah, Fonza punya peranan penting buat jadi jembatan. Salut!

Oke sip! Baru dengerin MC ngomong aja udah dapet nih millennialnya. Kemudian mulai nggak sabar saat lampu diatas kursi penonton dimatikan. Duduk manis, meresapi pertunjukkan.

Handry Satriago, memukau dengan narasi Malin Kundang di bagian pertama konser. Suaranya magis. Punya daya bikin kita dengerin lama-lama. Prolognya juga nampar banget kalo menurutku. Malin Kundang ngajarin kita bahwa manusia itu bisa jadi “batu” dengan menghalalkan segala cara untuk dapetin yang diinginkan dan keras dengan segala kemauannnya. Malin Kundang yang dikutuk ibunya menjadi batu bukan kisah fiktif tetapi sangat nyata dan berkaitan dengan kehidupan kita sebagai manusia sehari-hari. Itu salah satu pesan yang aku dapat dari prolog lelaki yang dramatis banget bawain narasinya.

Selain itu, aku merasa kalau kisah Malin Kundang ini pas banget dengan tema millennial konser ini. Kenapa? Menurutku, Malin Kundang mewakili jiwa para millennial yang bebas, mendambakan petualangan, keras kepala, sombong dan pemberontak. Walaupun Malin digambarkan bukan sebagai contoh yang baik, tetapi karakternya menggambarkan gejolak kawula muda dan sangat manusiawi. Malin Kundang, anak muda dengan karakternya yang kuat dikutuk menjadi batu tetapi dengan karakter anak muda yang seperti itu, banyak hal besar dan perubahan baik yang bisa terjadi. Aku makin bersyukur dapat kesempatan nonton konser ini.

Eh sebentar, Izmail Marzukinya mana?

Oh, ternyata bagian kedua inilah yang menampilkan karya-karya Ismail Marzuki. Mengajak para millennial, Jessica Sudarta, Anthony Hartono dan Finna Kurniawati, Ananda Sukarlan menampilkan gubahan lagu Ismail Marzuki dengan manisnya. Duh! Lagi-lagi millenial diajak untuk menunjukkan bakat luar biasanya. Dan aku ikut kebawa suasana dengerin setiap gubahan Ananda Sukarlan ini. Ingin ku sing along di lagu Indonesia Pusaka. Siapapun tergugah kalau bawain atau dengerin lagu itu. Rasanya kayak punya harapan dan nggak pait sama situasi sekarang. Ketika lagu Selendang Sutra selesai dimainkan, rasanya makin ngerasa beruntung bisa jadi saksi salah satu konser manis di awal tahun.

Pecutan awal tahun buat makin berdaya untuk Indonesia.

#Keepitclassic

Diskusiin aja, yuk!

Tulisan ini dibuat di depan kamar di lantai empat. Dengan posisi menghadap setengah empang dan perumahan. Sayup-sayup kedengeran suara jangkrik, kodok dan komuter yang sesekali wira-wiri. Nggak sepenuhnya sepi, tapi cukup buat kontemplasi. Sambil sesekali meneguk kopi dari kaleng ukuran sedang, aku melantunkan sebait lagu kesayangan semasa kuliah. Ditambah merem dikit biar makin berasa. Duh! me time ku syahdu amat. Pernah nggak sih merasa terlalu larut sama pekerjaan sampai lupa kalau duduk dan nggak mikirin deadline itu nikmat nggak ketulungan?

Tujuan dari duduk di depan kamar ini sebenernya cukup mulia; menyelesaikan uneg-uneg bikin tulisan yang nguing-nguing di kepala. Sebelum mulai mengetikkan kata pertama, aku mencoba membuat alur tulisan dan memilih sudut pandang. Nggak beres-beres dan hampir tergoda buat nonton film aja. Tapi trus inget tulisannya Julie Putra yang aku baca tentang idealisme proses “seni” seseorang yang suka tergoda buat mandeg dan nggak mengeksekusi idenya. Aw!

Jadi gini, 

Dua tahun ini aku lekat dengan dunia menonton pertunjukan, terutama musik. Pernah rajin banget ngintip jadwal di Salihara. Mulai dari nonton pertunjukkan instrumen tertentu sampai nonton pertunjukkan musik sambil belajar. Banyak momen yang melekat dan sering jadi bahan diskusi setelahnya. Diskusi ringan setelah nonton itu buatku sebuah kebutuhan. Beruntung banget Mas Yohanes Sebastian Anugerah (Inug), selalu meladeni semua pendapatku yang awam ini. Aku pribadi seneng banget ngobrolin hal yang baru. Musik buatku bukan hal yang baru tetapi punya ruang yang lebih luas untuk tahu lebih banyak soal seluk beluknya itu adalah hal baru. Biasanya dia akan bertanya “Menurutmu pertunjukkan tadi gimana?” dan dari pertanyaan itu bisa jadi diskusi panjang lebar.

Selain banyak ruang diskusi, aku juga lumayan sering melihat proses Mas Inug latihan piano. Salah satu yang berkesan adalah ketika dia latihan lagu Ananda Sukarlan, Toccata on Ibu Sud’s “Naik Delman”. Walopun setiap lagu punya kesusahannya sendiri, Toccata on Ibu Sud’s “Naik Delman” ini bisa dibilang sangat menantang sehingga pas Mas Inug selesai nampilin di hari H, aku ikut deg-degan dan ngajak tos penuh semangat. Aku pribadi suka banget sama karya Ananda Sukarlan yang ini. Mungkin karena familiar sekali jadi pas dibuat sedemikian rupa itu bikin nyumpah “Woe woe woe, kok bisa diginiin!”. Dan karena familiar, dasarnya guru SD, aku merasa lagu ini pasti mudah melekat di hati anak-anak. Trus aku jadi ngide buat ngasih liat lagu ini ke muridku. Sebelum aku share ke anak-anak, aku dan Mas Inug banyak diskusi soal interpretasi masing-masing mengenai lagu ini.

Inget banget waktu itu Mas Inug sharing sebelum tampil kalau pasti beda dong pengalaman naik delman Ibu Soed sama Ananda Sukarlan. Kalau melihat situasi sekarang, yang lekat dengan kita pasti lebih ke pengalaman naik delmannya Ananda Sukarlan. Kenapa? Coba deh bayangin naik delman dengan situasi lalu lintas Jakarta? wadoh! Syahdu enggak, bengek karna asep iya. Hiruk pikuk, macet, luapan emosi karna udara yang udah nggak senyaman itu untuk dipake naik delman. Nah! tapi akan beda lagi mungkin kalau naik delmannya di Jogja. Lebih syahdu? bisa. Suara ladam beradu dengan aspal atau tanah berbatu bercampur dengan sendau gurau kusir dengan penumpang dalam bahasa daerah. Karna aku dari Jawa Tengah, jadi membayangkan obrolan simbah-simbah, pakde, budhe yang jenaka dalam bahasa Jawa itu anget banget. Intinya sih, setiap dari kita punya pandangan masing-masing mengenai satu hal menurut pengalamannya. Boleh intip-intip video Naik Delman yang dimainin sama Mas Inug, pasti kamu pun punya interpretasi sendiri tentang lagu ini.

Kita Pasti Beda.

Dari racauanku di atas, aku semakin sadar bahwa banyak subyektivitas dari pendapat-pendapat kita. Tapi alangkah baiknya melihat juga sih subyektivitas orang lain. Oke, aku punya pengalaman A yang bikin aku berpendapat A tapi nggak ada salahnya banget untuk liat juga sudut pandang B, C, D, E, F, G. Dan perlu juga untuk nggak ‘iya iya’ aja kalo menerima informasi tertentu. Kalau dapat satu berita, biasanya aku akan bagi ke temen dengan nada konfirmasi atau mencari tau lebih lagi. Yang jelas, berdiskusi mengenai isu-isu tertentu bikin kita nggak saklek sama pemahaman kita aja. Walopun akhirnya nggak setuju tetapi melihat sudut pandang lain adalah baik adanya.

Hoax dimana-mana guys! Jangan sampai kita yang merasa diri adalah butiran debu ini ikut ambil bagian dari isu-isu yang sifatnya memberikan pemahaman yang belum tentu benar. Menurutku masing-masing dari kita punya tanggung jawab buat menyebarkan kabar baik. Kabar yang mendidik. Kabar yang membuat orang lain berfikir lebih dalam, lebih luas, lebih menyeluruh. Sesimple nggak share berita yang belom tentu bener ke group whatsapp atau ngetwit sembarangan.

Kembali ke tujuanku menunjukkan video Naik Delman ke muridku, maaf kalo ambisius, tapi sebenernya pengen ngasih pesan ke anak-anak juga bahwa mereka bebas untuk melihat sesuatu yang sudah ada dengan sudut pandang yang berbeda. Pun juga membuka ruang diskusi dengan melihat pendapat teman lain mengenai lagi ini. Diskusinya seru, karena jadi tau pengalaman naik delman muridku.

“Ah aku tau lagu ini, Naik Delman!”

“Kok lagunya beda dari yang aku pernah dengerin Ibu Kiky?”

“Waa keren ya!”

“Lagunya jadi panjang”

“Ini lagu apa sih?”

“Aku pernah naik delman. Yang ada kudanya itu kan. Di jogja. Seru banget”

Mereka punya pendapat dan sudut pandangnya sendiri. Seperti kamu, aku dan orang-orang di luar sana. Hmm jadi nggak sabar nonton konser Milenial Marzukiana nya Ananda Sukarlan di hari Minggu, 13 Januari 2019 besok. Kira-kira “Ismail Marzuki” akan jadi apa ya di konser nanti. Can’t wait!

 

 

 

Dua. Temu Pendidik Nusantara (TPN) 2018.

Tulisan ini adalah-sesuai dengan namanya- tulisan kedua dalam serial refleksi akhir tahun 2018 (udah lewat sehari nggakpapa kan ya). Nggak harus baca yang “satu” sih buat baca ini karena ceritanya beda, tapi alasan dibalik penulisan serial refleksi ini memang ada di bagian “Satu”. Jadi boleh banget buat ngintip tulisan sebelumnya :). Lanjut yuk!

Temu Pendidik Nusantara (TPN) itu apa sih?                                                                           TPN ini adalah tempat ketemu rekan pendidik dari berbagai daerah di Indonesia untuk saling berbagi praktik baik, refleksi sama sama, memperluas pengetahuan dalam mengajar, ajang buat kolaborasi dan bisa juga membuka jalan untuk jenjang karier guru. Inisiator kegiatan ini kebetulan juga pemilik dari sekolah tempat aku mengajar sekarang. Karena itulah jauh-jauh hari sebelum acara ini dimulai, sibuknya udah berasa dan informasi untuk jadi relawan dan pembicara juga bertebaran di group whatsapp, meeting mingguan dan email sekolah.

Tahun 2017 lalu adalah tahun pertamaku di sekolah baru. Karena dorongan dari supervisor dan pengen tau lebih tentang TPN, aku ikutan buat jadi relawan, tepatnya sebagai pendamping kelas. Tugas pendamping kelas itu salah satunya jadi pembawa acara yang memperkenalkan pembicara dalam kelas tersebut. Aku beruntung banget sih karena jadi bisa ikutan beberapa sesi yang berbeda setiap harinya. Belajar tanpa bayar tiket hahaha. Beberapa materi yang aku ingat waktu itu antara lain tentang sekolah inklusi, strategi belajar agama yang tidak hanya menghafal, belajar untuk mengenali diri sendiri dan teknologi sebagai salah satu media belajar di kelas.

IMG_20171016_135724_033

Di tahun berikutnya, tepatnya 5 Oktober 2018, aku mendapat kesempatan untuk bergabung lagi di acara tahunan ini. Bukan sebagai panitia, relawan atau peserta. Aku memberanikan diri untuk ambil bagian sebagai pembicara. Kok bisa? Nekat. Modalnya nekat. Lagi-lagi dorongan dari supervisor yang nggak capek bilang “Coba yuk, aku tunggu draftnya ya”. Dari “Duh belom bisa” sampai “Yaudah yuk coba dulu”, aku dan rekan kerjaku mencoba untuk membuat draft dengan tema “Ragam Strategi Memahami Murid”. Ya ampun berat amat, memahami diri sendiri aja masih suka kepleset.

Mencari tau untuk memahami. 

Dalam sharingku di TPN 2018, salah satu cara untuk memahami murid adalah mencari tau sebanyak-banyaknya. Kepo banget ya? iya. Menurutku salah satu modal pendidik itu ya kepo. Mau tau terus tentang kebutuhan muridnya. Dari kebutuhan gerak, cara main, gimana dia berinteraksi, dan pola dalam belajar sehingga pendidik bisa menentukan cara paling efektif untuk membantu kegiatan belajarnya di sekolah. Dibutuhkan kepekaan dan kekepoan buat bisa memahami mereka. Proses ini aku percayai sebagai salah satu proses yang penting dalam dunia pendidikan. Karena selain murid, guru pun bisa belajar banyak melalui hal ini. Aku sebagai guru belajar sabar dari proses mencari tau untuk memahami ini. Sabar ketika ada murid yang perlu waktu lebih untuk memahami sesuatu. Sabar ketika aku harus menularkan pemahaman bahwa guru dan murid harus saling mendengarkan. Sabar bahwa setiap konflik di kelas tidak melulu diselesaikan saat itu juga. Terutama belajar sabar sama diri sendiri kalau nggak semua hal bisa sempurna dan sesuai kemauan kita.

Membuka ruang diskusi.

Hal lain yang disampaikan adalah melibatkan murid dalam setiap proses belajarnya. Melibatkan murid disini bisa dalam proses diskusi menentukan tempat bermain, mengumpulkan ide cara memotong kue ketika belajar tentang pecahan, mengajak mereka mambuat kesepakatan bersama di kelas dan yang lebih personal seperti mengajak berefleksi ketika masih perlu diingatkan tentang kesepakatan di kelas, menentukan posisi belajar yang nyaman dan efektif atau sama-sama mencari solusi ketika bersinggungan dengan konflik. Ketika mengaplikasikan ini di ruang kelas, aku sering sekali diingatkan kalau semakin jarang membuka ruang diskusi dengan rekan sekerja, keluarga dan pasangan. Suka mampet kalau ada konflik dan diajak menyelesaikan. Maunya kabur aja trus pas balik masalah selesai. Terkadang juga suka berasumsi tapi nggak mau konfirmasi. Atau malah sebaliknya, pengen masalah cepet-cepet diselesaikan padahal mungkin kita perlu jeda biar bisa lebih bijaksana. Suka nggak mau tau tentang sudut pandang orang lain nggak sih? Kayak lagi berdiri di dua sisi sungai. Saling berseberangan. Membuka ruang diskusi itu kayak bangun jembatan biar bisa lihat dari banyak sudut pandang.

Menerima apa adanya. 

Sebagai penutup dalam presentasi hari itu, kami semua setuju bahwa setiap murid punya keunikannya masing-masing. Kalau yang satu belajarnya bisa sambil lompat-lompat. Satunya lagi harus duduk diam dan tenang. Ada yang bisa dengan cepat memahami temannya dan bermain. Ada yang perlu waktu untuk mengenal lingkungannya. Ada yang kalau marah perlu nangis dan sendirian. Tapi ada juga yang kalau marah bisa langsung menyampaikan perasaannya ke lawan bicara. Dalam mendampingi proses belajar murid, menerima mereka apa adanya itu adalah kunci. Kita nggak berhak mengubah mereka menjadi seseorang yang kita mau tetapi mendampingi mereka dalam proses menjadi pribadi terbaik menurut versi mereka sendiri. Ketika seseorang diterima sebagaimana dia apa adanya, akan tumbuh rasa percaya, didengarkan, dimengerti. Ini sih aku suka ketampar sendiri. Nggak gampang buat menerima orang lain. Lha wong menerima diri sendiri aja aku masih sulit. Tapi berproses sama anak-anak bikin aku percaya kalau perjuangan ngelawan diri sendiri itu nggak instan. Musti alon alon.

Haru pas pamitan di sesi berbagi TPN 2018 masih berasa sampai sekarang. Aku terharu sama curhatan pendidik lain yang semangatnya nggak pernah pupus buat dampingin murid-murid. Angetnya masih berasa sampai sekarang. Semoga bisa ketemu dan berbagi lagi di TPN tahun depan ya!

20181006_112753

 

 

 

 

 

 

Selamat Menyambut Lahirnya Harapan.

“Jingle bell jingle bell, jingle all the way! Oh what fun it is to ride in a one-horse open sleigh”

“Eh kan nggak boleh nyanyiin lagu itu. Itu lagu orang Kristen. Kata ibu aku nggak boleh”

Dua baris tulisan di atas dinyanyikan dan diucapkan oleh dua orang muridku di sekolah. Kebetulan sekolah tempatku bekerja tidak berbasis agama tertentu dan itu merupakan salah satu alasanku berpindah dari sekolah sebelumnya ke tempat ini. Tidak dipungkiri kalau mendengarkan anak kecil menyanyikan lagu Natal bikin inget masa-masa kerja di sekolah sebelumnya. Sekolah Kristen yang saat teduh dan bernyanyi adalah nyawanya.

Ketika mendengarkan salah satu anak di kelasku bernyanyi lagu Natal, udah bikin senyum seneng karna ngerasain nuansa Natal yang akan segera tiba waktu itu. Sedikit dibuyarkan sih ketika mendengar kalimat kedua dilontarkan. Respon pertama yang muncul dariku adalalah pertanyaan “Kenapa memangnya, nak?” Jawabannya mengulang dari pernyataan sebelumnya “Itu kan lagu Kristen. Kata ibu nggak boleh”. Aku terdiam. Mencoba mencerna sebelum memberikan respon selanjutnya. Dalam diamku, aku berfikir tentang beberapa hal.

Pertama, sebagai seorang yang tumbuh dari keluarga Kristen, aku mengenal agama ini sedari kecil. Mulai dari lagunya, sekolah minggu, ritual setiap ibadah minggu dan hari besar dan boleh makan babi (yum!). Mungkin karena bapakku besar dari keluarga muslim, bapak tidak pernah mengatakan untuk tidak melakukan hal tertentu yang berkaitan dengan agama lain. Bahkan aku dengan sukarela dan tanpa dilarang oleh bapak, mengikuti pelajaran agama islam selama sekolah dasar. Seiring berjalannya waktu, aku mulai mengenal Kristen bukan sebagai agama yang harus aku agung-agungkan (monmaap nih ya) tapi lebih mencari esensi dari ajarannya. Apa sih intinya? Ngajarin apa sih? Relevansinya sama hidup bermasyarakat itu apa sih? Yang kayaknya sih, menurut pengertianku yang belum apa-apa ini adalah menjadi berguna, berdaya dan mewujudkan cinta kasih sama siapa aja. Tanpa terkecuali. Jadi rasanya, aku yang seorang Kristen ingin merespon muridku dengan “Yaelah, santai woe. Nyanyi doang”.

Kedua, posisiku sebagai seorang guru yang punya kewajiban moral dan pengetahuan mereka. Tepatnya guru di sebuah sekolah yang menjunjung tinggi perbedaan. Yang berusaha membuka pengetahuan mereka tentang keberagaman. Poin kedua ini agak bikin jambak rambut sendiri sih. Frustasi. Menurutku nggak bijaksana kalau langsung melakukan intervensi yang sifatnya mengarahkan untuk melakukan tindakan tertentu tanpa aku tahu lebih dalam alasan utama dibalik larangan dari sang orangtua terhadap anaknya. Pun aku juga nggak punya pengetahuan yang baik tentang agama dan kepercayaan tertentu serta larangan-larangannya. I should respect that aspect completely. Mencoba untuk tidak lekas bereaksi menurutku sangat dibutuhkan agar kita bisa melihat segala sesuatu lebih jeli. Lebih dekat. Kalau kata Sherina “Lihat segalanya, lebih dekat dan ku akan mengerti”.

Menurutku, setiap anak perlu tahu alasan dibalik semua hal yang ingin coba kita sampaikan. Jangan duduk di depan pintu! Jangan lari-lari ke tempat gelap! Jangan makan sambal tiduran! Jangan sampai alasannya adalah pamali, nanti ada setan, nanti jadi uler. As everyone deserves to have clear and logic explanation. Jadi, kenapa nggak boleh nyanyi lagu jingle bell sih? (serius nanya). Semoga apapun alasannya nggak bikin anak-anak jadi nggak menghormati dan menganggap dirinya lebih benar dari yang lainnya ya 🙂 dan semoga anak-anak tetap menikmati waktu mainnya seperti yang digambarkan lagu Jingle bells.

Selamat Natal semuanya. Selamat menyambut lahirnya harapan. Semoga semangat cinta kasih menyelimuti kita dan nggak pernah capek buat saling berbagi senyum dan kehangatan. Peluk hangat yang terkasih di sebelah kalian.

 

 

 

 

Satu. Festival Dongeng Internasional Indonesia 2018.

Kemarin sore, aku membuat sebuah tulisan pendek di buku catatan baru. Hadiah Natal dari seorang teman di tempat kerja, warnanya merah dengan beberapa ornamen. Suka sekali. Di situ aku menuliskan pesan singkat untuk diri sendiri. Semacam apresiasi, yang kok kayaknya jarang terjadi sepanjang tahun. Intinya sih terima kasih karena udah kuat dibanting sana-sini. Yang kemudian ditutup dengan rasa syukur. Bisa dibilang itu salah satu usahaku untuk memeluk diri sendiri.

Tulisannya aku buat satu halaman saja. Ya pasti kurang mewakili pasang surut 2018 dengan detil. Tapi tujuan awalnya memang sebagai pengingat nanti di 2019 kalau (amit-amit) mau “menyerah”. Selain menulis pesan singkat itu, aku juga mencoba buat banyak berefleksi. Refleksi bikin aku mengingat ingat lagi kejadian sepanjang 2018. Walaupun terdengar klise, aku mau jadi semakin lebih baik menurut versiku dari hari ke hari.

Nah! Pas banget juga mau tahun baru ya kan! Aku kepikiran buat membagikan beberapa momen bermakna sepanjang tahun 2018 dan hasil refleksiku melalui tulisan di blog ini. Serial tulisan akhir tahun ini aku mulai dengan satu cerita manis dari sebuah Festival Dongeng.

Sebagian orang ikut komunitas karena diajak teman. Kalo aku, ikut komunitas dan dapat teman. Sahabat. Ayo Dongeng Indonesia nama komunitasnya. Komunitas ini dibentuk karena kecintaan si pendiri terhadap cerita dan dia percaya kalau melalui cerita banyak cerita baik, kisah ajaib dan momen bermakna yang muncul. Happiness is contagious, they said. Well, I do agree!. Akhirnya, 4 tahun lalu aku memutuskan untuk bergabung dan menikmati festival dongeng pertamaku.

Mulai dari 2014 aku terlibat dalam kepanitiaan festival dongeng internasional yang digelar sepanjang tahun dengan tema-tema berbeda. Tema tahun ini adalah “Kisah Bahagia”. Proses kreatifnya seru banget sih menurutku. Salah satunya adalah ketemuan sama sesama tim kreatif sepulang kerja di sebuah kafe yang menjual es krim beraneka rasa di kawasan Cipete, Jakarta Selatan. Selain es krimnya, obrolannya juga enak dan adem. Kita bikin konsep acara yang se-“ambi” mungkin (akhirnya belom kesampaian sih si konsep ambi itu). Dari obrolan ambi itu, kita jadi berbagi juga tentang konsep bahagia kita sendiri. Aku sih percaya banget kalau konsep bahagia masing-masing orang itu beda-beda. Ada yang suka banget makan jadi bahagia banget kalo bisa nemu temen yang asyik buat diajak kulineran. Ada yang suka banget sama anak-anak, jadi bahagia banget kalau ada dalam satu kegiatan yang banyak anak anaknya. Ada juga yang suka mikir, jadi bahagia banget kalau ada waktu sendirian. Atau bahagia itu adalah jatuh dan berani bangkit lagi karena bahagia nggak melulu soal yang ketawa ketawa aja tapi bisa juga perjuangan.

Dari semua konsep menarik yang disampaikan, saat itu aku kepikiran sama omongan salah satu sahabatku, Dita yang juga ada di komunitas ini. “Pengennya sih nggak cuma anak-anak aja yang bahagia setelah pulang dari festival, tapi orangtuanya juga. Karena mereka yang akan jagain biar bahagianya gak berhenti gitu aja”. Dari situ, aku usul buat ada satu spot yang isinya foto-foto gede banget. Contohnya beberapa foto dari anak yang belajar jalan, jatuh, nangis dan akhirnya berusaha buat berdiri lagi. Maksudnya sih mau ngasih tau orangtua buat refleksi untuk kasih apresiasi setiap perjuangan-perjuangan dan langkah kecil anak-anaknya. Menurutku itu salah satu cara buat menjaga kebahagiaan anak-anak.

Long story short, konsep ambi itu nggak jadi direalisasikan. hahahhaa. Karena sepertinya juga kurang sesuai dengan festival yang selalu heboh dan ramai pengunjung ini. Lain waktu dong, please! ((masih ambi))

Festival yang ditunggu-tunggu dimulai!! Agenda hari pertama adalah workshop dari beberapa pendongeng Indonesia dan pendongeng tamu dari Filipina, Richard Dian Villar dan Giovanna Conforto dari Italia. Karena diberi tanggung jawab buat jadi PIC workshop, seperti tahun-tahun sebelumnya, aku nggak bisa fokus ikutan di setiap workshop yang ada (sedih banget). Aku musti lari dan koordinasi sana sini buat memastikan semua workshop berjalan lancar, tepat waktu dan selesai dengan bahagia. 4 ruangan workshop yang berbeda dengan waktu yang hampir bersamaan bikin lumayan kenceng sih. Untungnya anggota tim workshop sabar dan baik banget. Semuanya kasih beribu semangat dan senyum paling manis kalau papasan (peluk satu satu). Bersyukur banget timnya gercep siap sedia, jadi kencengnya hari itu gak berarti apa-apa selain pengen minum thai tea ukuran large pake grass jelly. Kalo diinget-inget, hari pertama itu kasih aku kesempatan buat belajar mindful dan nggak egois. Kok bisa? Mindful karena harus fokus dan nggak egois karena aku harus  banget mikirin orang lain. Peserta workshop udah berapa banyak yang nunggu di depan pintu? Masih ada yang antri di registrasi nggak? Pembicaranya perlu apa lagi? Kalian udah makan? Goody bag nya perlu berapa? Yuk 10 menit lagi selesai yaa! dan masih banyak interaksi lain dengan intonasi yang bervariasi juga. No offense.  Haahaahhaaa

IMG_20181115_152038_824

Di hari kedua, dapat diakui kalo aku gabut. Workshop selesai di hari pertama. Hari kedua lebih banyak nyamper temen-temen di meja media, liat-liat bazaar makanan dan handmade product, nyempilin sesi curhat sama sahabat kesayangan, pelukin anak murid yang nyempetin datang dan paling seneng saat ikutan nonton dongeng istimewa dari Richard Dian Villar. Yay! Setelah 4 tahun menanti buat bisa menikmati satu aja dongeng istimewa. Dongengnya, seperti cerita anak-anak lain, selalu magical. Tapi yang paling ajaib dan bikin bahagia adalah ngeliat respon anak-anaknya sih. Salah satu muridku yang ikutan nonton, berani buat angkat tangan dan ikutan ambil bagian dari cerita dongeng yang disampaikan. Anak muridku yang suka malu-malu kalo ngomong di depan kelompok besar. Rembes banget! Bangganya nggak ketulungan. Aku yang duduk dipojokan ruangan, ngemper pake celemek merah hati cuma bisa senyum senyum sendiri.

IMG_20181104_220255_903
Kami dan Richard Dian Villar

Ketika festival dongeng selesai, selain kaki pegel, kurang tidur, kebanyakan kafein, kepala spaneng, bau keringet dan kebanyakan makan nasi tim, aku seneng banget dengan hiruk pikuk festival yang dilaksanakan di Museum Nasional ini. Seneng karena semua capeknya kebayar sama senyum anak-anak dan sama momen kisah bahagia dari setiap pengunjung yang dateng ke festival. Peristiwa manis di festival ngingetin aku kalau setiap hal baik yang kita lakuin nggak akan pernah sia-sia. It counts. Worth it.

Karena itu, aku nggak pernah kepikiran berhenti buat berbagi kisah bahagia dan semoga bikin anget orang-orang yang dengerin juga 🙂

*Tulisan yang jauuuuuh dari sempurna ini ditulis untuk yang ragu buat bercerita.

 

Teladan.

Siapa yang mendengarkan nasihat papa mama?

Kalau ini ditanyakan kepada anak remaja yang lagi seneng-senengnya eksplorasi, mungkin jawabannya senyum simpul atau nyengir-nyengir kuda. Bisa jadi sambil teringat obrolan tadi pagi sebelum sekolah yang dijawab iya biar obrolannya cepat selesai. Been there!

Kalau ditanyakan kepada orang dewasa, jawabannya mungkin bisa beragam. Bisa penyesalan karena merasa tidak pernah mendengarkan, bisa terima kasih karena terbantu dengan banyak wejangan dan bimbingan atau mungkin sedikit tidak terima karena merasa bisa lebih dari yang papa dan mama sarankan sebelumnya.

Ketika menonton film “A Man Called Ahok” Sabtu kemarin, bayangan mengenai relasi orangtua dan anak, khususnya ayah sangat terasa dan berputar-putar di kepala. Jadi teringat juga banyaknya diskusi, adu pendapat dan ketegangan-ketegangan yang pernah saya pribadi alami dengan bapak.

Sosok ayah dalam film tersebut seperti akar yang kuat yang menjadi kekuatan untuk pohon dan buahnya. Dalam film tersebut, sang ayah digambarkan memiliki prinsip yang kuat dan ingin mewariskan nilai-nilai yang ia percaya selain hartanya yang melimpah. Nilai kejujuran misalnya, terlihat ketika ayah mengajak tokoh Ahok kecil dan adiknya untuk ikut turun melihat proyek pengaspalan jalan. Sang ayah terlihat sangat marah ketika salah satu pegawainya tidak melakukan prosedur yang sesuai dan memanipulasi jumlah tong aspal untuk mendapatkan keuntungan. Ayah kemudian meminta adik Ahok untuk memecat pegawai tersebut yang akhirnya Ahok yang maju untuk meminta pegawai tersebut berhenti bekerja.

Keras? Iya. Tetapi hal yang paling dalam yang digambarkan di sini adalah bahwa kejujuran itu tidak bisa ditawar.

Selain nasihat ayah yang disampaikan secara tersurat, Ahok juga meneladani sikap sang ayah dalam kesehariannya. Ahok kecil yang rela membuka celengannya (dan celengan adiknya) untuk membantu salah satu warga yang kesulitan biaya untuk melahirkan. Ahok mencontoh perbuatan ayah dan ibunya yang ringan untuk membantu orang-orang di sekitarnya.

Salah satu adegan sarat makna lainnya adalah ketika ia bertanya kepada ayahnya mengenai identitasnya di Indonesia. Ayahnya menjawab “Jangan pernah berhenti mencintai negeri ini”. Cinta ayah untuk negerinya tergambar dari usahanya untuk membangun kota kecil tempat ia tinggal. Katanya cinta itu bukan kata benda tapi kata kerja. Kecintaan itu juga yang membuat Ahok memutuskan untuk membantu kota kelahirannya dengan menjadi Bupati.

Tetapi apakah Ahok selalu menuruti nasihat ayahnya? Nggak juga. Ahok dewasa digambarkan sering menemui gesekan-gesekan dengan ayahnya. Mungkin sama seperti kita yang kadang punya idealisme terhadap sesuatu karena sudah merasa melihat dunia luar yang terkadang membuat kita mengabaikan pandangan orang lain. Di situlah kita perlu lebih banyak ruang untuk berdiskusi.

Dari film ini, saya berefleksi mengenai nilai-nilai yang saya miliki. Kalau dilihat lebih dekat lagi sebagian besar nilai yang saya yakini ya berawal dari rumah. Tetapi banyak juga nilai-nilai yang kita temukan sendiri dari luar sana. Dari sekolah, lingkungan kerja, komunitas dan juga hubungan personal sehari-hari.

Ayah Ahok meminta anaknya sekolah setinggi-tingginya tetapi ia juga selalu berpesan untuk kembali ke tanah kelahiran mereka. Berdaya. Berbagi. Menjadi berguna. Tetap menginjak bumi.

Orangtua tidak selalu benar, tetapi mereka pasti bijaksana.

Ahok meneladani ayahnya. Kita pun pasti menjadikan Ahok sebagai teladan yang berani dan jujur. Teladan apa yang bisa kamu berikan untuk orang di sekitarmu?